June 24, 2003

Cuma mau menuliskan dua kalimat dari Pablo Neruda yang saya lihat di buku Sitok Srengenge, Kelenjar Bekisar Jantan:

"Love is so short
Forgetting is so long"

Mungkin saya tengah merasakan betapa pendek apa yang selama ini saya sebut dengan cinta. Tapi apakah betul melupakan itu sulit? Entahlah...mudah-mudahan tidak.

24 Juni 2003

June 04, 2003

CINTA DAN KAUSALITAS

Beberapa saat yang lalu saya berdiskusi dengan seorang teman baik (kadang-kadang saya memanggilnya Aditya). Tepatnya sih dia yang memberi banyak pandangan tentang topik yang sedang menarik hati saya saat ini, yaitu pernikahan. Sebetulnya keluhan saya adalah keluhan yang sangat klise, tapi tetap mengganggu hati saya; bagaimana mencari orang yang tepat untuk kita, apa hakikat dari sebuah pernikahan, termasuk bagaimana jika tiba-tiba kita bosan dengan pasangan dan pernikahan itu. Jawaban-jawaban dia pun sebetulnya sudah pernah saya dengar, tapi sering pula saya lupakan maknanya.

Dia bilang sebetulnya tidak ada cinta* di dunia ini. Yang ada hanyalah sebuah kausalitas. Ketika ada orang yang memberi pada kita, baik itu perhatian, materi, atau kata-kata manis, maka kita akan bereaksi hal yang sama pada orang tersebut, kita merasa berada di awang-awang. Sementara jika semua itu hilang, hilang pula perasaan kita terhadapnya. Saya terdiam sesaat. Kalau begitu inilah yang di namakan nafsu; nafsu ingin dipuji, ingin diberi, ingin mengatur, ingin dicinta. Ya, kata teman saya. Di sinilah apa yang disebut pemuasan ego belaka.

Level kausalitas ini, menurutnya yang dia kutip dari seorang ustadz saat menghadiri akad nikah, adalah level terendah dalam hubungan antar manusia. Dan perasaan seperti ini akan menghilang bahkan di saat-saat awal pernikahan.

Level keduanya adalah rasa sayang. Perasaan yang ciri-cirinya antara lain menerima apa pun kondisi orang yang kita nikahi, baik kelebihan maupun kelemahannya, dengan kata lain kita bersyukur atas apa yang ada padanya, pada diri kita, dan pada keadaan yang dialami berdua.

Level tertinggi adalah menikah atas dasar ibadah kepada-Nya. Kita menyukai dan menghormati pasangan karena cinta kita kepada-Nya, untuk meraih ridha-Nya, dan untuk menuju-Nya. Pernikahan adalah sebuah amanah, sebuah tanggung jawab; suami bertanggung jawab pada isteri dan sebaliknya, orang tua bertanggung jawab pada anak. Di sinilah Insya Allah, pernikahan akan abadi.

Saya termangu-mangu mendengar penjelasan dia. Barulah saya sadar selama ini dalam menyukai orang lain, saya berada di level terendah. Saya membuat kategori-kategori yang sempurna sebagai persyaratan untuk menjadi suami saya, dengan tujuan memenuhi ego duniawi belaka (mungkin ini sebabnya kenapa saya tidak kunjung menikah). Saya sering lupa bahwa saya sendiri jauh dari sempurna. Selama ini saya, seperti katanya, berada dalam realitas semu dalam melihat tentang standar-standar hidup. Betul juga, saya jadi ingat perkataan Guru saya yang beliau kutip dari kitab suci: yang baik menurut kita belum tentu baik menurut-Nya; yang tidak baik menurut kita belum tentu tidak baik menurut-Nya.

Terakhir teman saya mengingatkan (tidak persis kalimatnya seperti ini), kadang kita mengabaikan orang yang baik dan tulus terhadap kita, sementara kita sendiri malah sibuk mengejar-ngejar cinta yang semu.

Saya langsung terdiam.

Depok, 4 Juni 2003. 02.20 WIB
*Definisi cinta yang umum dipakai oleh kebanyakan orang dan pasangan.

INUL VERSUS KAUM BERAGAMA

Suatu sore saya asyik duduk berdua dengan seorang teman di depan televisi yang kebetulan tengah menayangkan perang Inul versus Bang Haji Rhoma Irama. Perang itu pun ndilalah merembet ke kami berdua. Dia terang-terangan membela Bang Haji, sementara saya terang-terangan tidak membela kedua-duanya.

Teman saya marah. Katanya, “Elu ini gimana sih, lu kan Muslim, masa ngga membenarkan Bang Haji!”. Dimarahin begitu saya cuma cengengesan. Dia melanjutkan, rupanya belum puas protes, “udah gitu lu kan pake jilbab pula! Gimana sih?!?”. Nah loh, apa hubungannya ya? Akhirnya saya pun terpaksa tidak cengengesan lagi. Jawab saya, “Abis gue ngga suka sih cara Bang Haji menasihati Inul, lah kok ya ngga mauidhah wal hasanah, ngga pake cara yang santun”.

Dia ngotot, “emang harus digituin, kalo ngga gitu ngga bakal sadar-sadar Inul. Buktinya dari dulu kan dia udah diprotes tapi cuek aja.” Lalu tanpa menunggu jawaban dari saya dia terus saja nyerocos, “gue ngga ngerti kenapa sih kita semakin kacau, apalagi hiburannya. Di mana-mana pornografi, di mana-mana pornoaksi; ngga di tivi, ngga di radio, ngga di majalah, ngga di koran, apalagi di internet. Bangsa kita emang bego. Udah miskin, bego lagi!” (oke, sekarang dia mulai mengumpat) “padahal kita kan negara dengan penduduk muslim terbesar! Moral bangsa kita emang udah bejat”. Saya masih diam, asyik mendengar omelannya. Lalu katanya, “nah, elu kan mahasiswa sosiologi, coba jelasin kenapa keadaan jadi kacau balau begini.”

Waduh! Kalau disinggung-singgung soal status, saya mendadak jadi sensitif. Maklum, sudah enam tahun belum lulus-lulus juga. Jadilah saya menjawabnya sambil sedikit bete, “mmmm...gimana ya...” saya sok mikir. “masalahnya adalah moral bangsa yang bagaimana yang bejat? Kalau semua orang setuju dengan Inul, apa bisa itu disebut moral yang bejat? Lah, menurut sebagian besar orang dalam poling-poling, surat pembaca, atau telepon interaktif di saluran-saluran tivi, ngebornya Inul masih wajar, kok! Berarti kan terjadi perubahan pandangan tentang apa yang baik dan apa yang tidak baik dalam masyarakat.”

“Jadi maksud elu Inul ngebor itu wajar? Video klip MTV itu ngga apa-apa? Majalah-majalah porno itu juga ngga apa-apa, hah?!? Elu ini tau agama ngga sih?!?” Yaaa...dia tambah sewot deh.

“Tau sihhh...dikit-dikit,” kata saya, “makanyaaa...gue bilang inilah kekalahan kaum beragama di Indonesia soalnya....”

“APAAAA?!?!? ELU GILA YA?!?!” Belum selesai saya bicara, tiba-tiba dia berteriak kencang sekali. O, ow! Dari volume teriakannya saya tau saya akan dapat masalah besar. Pelan-pelan saya jelaskan maksud ucapan saya, “karena tadi elu minta gue jelasin sebagai orang yang belajar sosiologi, gue bilang bahwa inilah kenyataannya, inilah kesepakatan masyarakat sendiri bahwa goyang Inul itu ngga apa-apa, wajar, dan ngga melanggar moral. Batasan-batasan moral suatu masyarakat kan ditentukan oleh kesepakatan masyarakat itu sendiri, dan pada kasus-kasus tertentu dilindungi oleh hukum negara.” Dia menyergah, “jadi lu bilang karena kesepakatan masyarakat begitu, agama elu singkirin? Lu mau bilang agama itu ketinggalan jaman? Ajaran agama kan ngga kenal ruang dan waktu apalagi budaya. Ajarannya menyeluruh dan selalu sesuai dengan jaman. Bukan agamanya yang salah tapi masyarakatnya yang udah mulai murtad!” katanya berapi-api. Wuiiiihhh..tambah serem nih. Saya langsung menjawab,

“loh, kita kan bukan negara agama. Ngga ada tuh misalnya peraturan yang bilang, karena dalam agama Islam ngebor dilarang maka pelakunya diancam hukum kurungan minimal lima tahun. Atau karena Islam bilang ngebor Inul itu bejat maka yang nonton, yang setuju dengan Inul harus dihukum sepuluh tahun. Ngga ada kan yang kaya begitu. Bahkan MUI sendiri yang dianggap lembaga tertinggi agama kita fatwa-fatwanya hanya bersifat imbauan. Indonesia kan negara ngga jelas, serba nanggung, sekaligus korban babak belur dari kapitalisme (aduh! Lagi-lagi saya pake kata ini). Semuanya kan sekarang serba industri, makanan, pakaian, gaya hidup, termasuk juga hiburan. Siapa yang punya uang dia yang berhak menentukan kesadaran orang. Siapa yang punya media massa, dia yang berhak menentukan selera masyarakat. Bahasa kerennya sih propaganda nyebarin ideologi atau ngebikin hegemoni.”

“Makanya, gue bilang ini kekalahan orang-orang beragama yang anti-Inul. Kalau memang menurut mereka kesepakatan tentang moral sekarang udah melenceng jauh dari nilai-nilai agama, yaaa...beri kesadaran itu langsung pada masyarakat, soalnya kan ngga bisa ngandelin negara. Lawanlah kesepakatan yang sedang berlangsung saat ini, beri propaganda bahwa Inul itu salah, dan Bang Haji benar. Bentuklah hegemoni baru. Nah, karena hegemoni itu cuma bisa dilakukan oleh yang memiliki kekuasaan, baik uang, media, atau jabatan, gerilyalah untuk menguasai pos-pos itu. Cucilah lagi otak masyarakat. Ini kan perang otak alias perang kesadaran. Percuma lu ngebakar tempat judi, tempat pelacuran, ngancurin botol-botol bir, kalau kesadaran masyarakatnya sendiri ngga lu ancurin. Sampe tangan lu berdarah-darah juga kaga bakal berhenti tuh orang teler.” Saya jadi ikut-ikutan bicara berapi-api.

“Naaah, sekarang gimana cara gerilyanya, itu sih terserah ente, lah!” Tambah saya sambil tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba...jduk! Kepala saya kena remote control yang dihantamkan dengan kejam olehnya. Rupanya dia makin marah mendengar kata-kata saya. Sakit! Tapi saya yakin rasa sakit di kepala saya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya melihat keadaan saudara-saudara seagamanya, termasuk teman dihadapannya ini...

Depok, 4 Juni 2003. 04.12 WIB

ndilalah (terjemahan bebas)= lah kok ya bisa-bisanya